Jumat, November 28, 2008

Hari ini, 30 Hari lagi...


Walau belum waktunya ... ingin ku ucapkan rasa terima kasih yang dalam itu untukmu, calon istriku. Tekad itu sungguh besar, tekat yang tidak ingin kita tawar, tekat yang ingin kita jaga. Niat ini sungguh tidak membuat kita buta, buta untuk melakukan apa saja untuk menggapainya... tapi kita benar-benar melihat segala sisi walau dalam posisi terkunci. Belenggu itu insya Allah sudah hilang Ukhti..., itu karena keteguhanmu, ke gigihanmu, dan kesabaran kita... tetaplah seperti itu.


Hari ini, 30 hari lagi...

Jalan menuju matahari terbenam itu semakin terang, bukan karena matahari, tapi karena hati kita yang begitu bercahaya hingga semuanya menjadi terang... badai yang membuat kita ketakutan itu sudah reda walau layar kita sempat dirobeknya, tapi kini layar itu sudah kau jahit kembali, dan kita tengah melanjutkan perjalanan kita yang tinggal sesaat itu, jalan yang akan penuh dengan kesabaran menahan beribu perasaan... perasaan yang ingin kita bagi.


Mendengar suara mu yang tengah senyum memberikan kabar indah itu pasti membuat ku rindu, hingga aku geram pada waktu yang terasa begitu lamban berjalan... banyak hal yang ingin kudengar dari mu... banyak pula yang ingin ku katakan... tapi kita tahu kita masih belum siapa-siapa. Biarlah pundi segala perasaan itu penuh hingga kita tertatih menahannya, karena pada saatnya nanti kita akan meluapkannya, dan memenuhi hari-hari kita dengan letupan rindu itu setiap saat.


Untuk hari-hari yang penuh perjuangan itu... terima kasih, karena hanya itu yang bisa ku ucapkan sementara ini. Dan untuk hari-hari istimewa setelah 30 hari dari sekarang... biarkan tetap istimewa... dan tetaplah kau selalu istimewa...

Senin, November 24, 2008

Kaulah Jalan Itu, Ukhti...


Galau ini... bimbang ini... atau apapun namanya yang mendera hati kita mungkin sudah mencapai nadir, mencapai titik didih tertinggi hingga membakar semua isi raga yang yang tak kuasa meronta karena cinta orang tua, cinta yang tak boleh padam.


Satu cerita terukir kembali... lembaran bertinta tergores darah bisu yang tahu dalamnya air matamu, ku tak bisa berucap banyak mesti petir pun ingin kulepaskan dari teriakanku yang terusik rasa ingin menggapai mu dalam malam penuh debu harapan.


Badai berhujan ini telah merobek layar kita... tapi perjalanan ini harus berlanjut Ukhti... entah didalam badai ini besarnya kapal niat yang kita tumpangi akan karam termakan derasnya gelombang, ataukah kita terlempar keluar ... ataukan perahu ini harus patah dan kita hanya menggenggam bagian kecil yang tersisa... dan hilang dalam samudra lautan cinta Islam yang kita damba....


Tidak ukhti... perahu ini masih berlayar... kita masih menggenggam waktu menuju dermaga kita... kita masih punya waktu. Kita masih bisa menghibur hati dalam mimpi yang dibatasi ketakutan... sekalipun itu ketakutan akan kehilangan. Tapi setidaknya kita masih bisa bersama menjalani ganasnya badai ini... hingga badai ini reda, atau kita yang di redakan.


Genggamlah niat ini, raih pula hatiku, inilah kita dalam terbata masih setia menata cinta yang mulai digetarkan alam manusiawi. Kaulah tombak itu ukhti... kaulah jalan itu... aku tak kan pernah menyalahkan mu walau tombak itu harus patah... walau jalan itu harus buntu...


untuk malam yang ingin kita lalui, untuk siang yang ingin kita jalani...tetaplah dijalan ini, jalan yang ingin kita jejaki bersama... karena ini bukan cinta sederhana...

Sabtu, November 15, 2008

Dari Seorang Akhwat


Dikirim oleh seorang teman, seorang akhwat. Menyampaikan tulisan dibawah ini adalah hal yang sangat ia ridukan, agar "orang lain" itu tahu perasaannya...



Dalam Kesendirianku, mencari makna yang ada

Hanya sekedar ingin kau tahu


Aku ingin ungkapan rasa cintaku

tapi selalu terselip rasa ragu dihatiku untuk ungkapkan

aku ingin kau tahu dan mengerti

akan tumbuhnya benih cinta ini


Akankah cinta ini bisa bersatu

atau hanya akan bertepuk sebelah tangan saja?

Aku ingin kau menangkap makna cinta ini

Yang aku wakilkan pada ribuan kata-kata


Aku ingin kau memahami kegelisahan ini

Dengan mengirimkan kata rindu untukmu

Aku ingin kau memberi makna kisah ini

Dengan segala kerendahan dalam jiwaku

Cintaku sederhana... .
Tak perlu bayangku ada di balik tubuhmu
Tak perlu namaku terpahat di hatimu
Tak perlu langit tahu kau mengenalku
Tak perlu kau katakan pada bumi aku kekasihmu
Tak Perlu ada kata-kata dua hati menyatu
Tak Perlu Ada Janji menyenangkan hati
Tak perlu semua yang kulakukan untukmu bergelantungan di pikiranmu

Cintaku sederhana... .
Cukup hanya daun yang tau
Cukup hanya angin yang membawa harum cintaku
Cukup hanya Seperti Matahari menerangi rembulan
Cukup dengan siluetmu di mataku
Cukup dengan melihat senyum di bibirmu
Cukup dengan Melihatmu menjalankan ibadah
Cukup dengan melihat kehadiranmu setiap harinya
Cukup dengan ijinkan aku mencintaimu

Cintaku sederhana... .
Sesederhana mentari menyinari bumiku
Sesederhana cintaku terhadap bencimu
Sesederhana Diammu untuk kehadiranku
Sesederhana sakitku akan rasaku

Tapi dibalik kesederhanaan ini
Cintaku bukan hanya nafsu belaka
rasa tulus yang akan kuberikan

Suci cinta ku akan terus kupertahankan
Sampai kau mengerti semua yang ada
Biarlah angin yang menentukan arah selanjutnya


(Kemudian dia melanjutkan...)

Pernahkah kamu merasakan, bahwa kamu mencintai seseorang, meski kamu tahu ia tak sendiri lagi, dan..meski kamu tahu cintamu mungkin tak berbalas, tapi kamu tetap mencintainya .

Pernahkah kamu merasakan, bahwa ....kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai, meski kamu tahu ia takkan pernah peduli ataupun ia peduli dan mengerti, tapi ia tetap pergi ....


Pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta, tersenyum kala terluka, menangis kala bahagia, bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah. Aku pernah.........

Kini aku tersenyum meski kuterluka karena kuyakin Tuhan tak menjadikannya untukku. Kini aku menangis bahagia, karena kutakut kebahagiaan cinta ini akan sirna begitu saja. Aku akan tertawa saat berpisah dengannya nanti, karena sekali lagi, cinta tak harus memiliki, dan Tuhan pasti telah menyiapkan cinta yang lain untukku .

Saat ini aku senang kala bersamanya, tapi kutakut aku kan kehilangan dia suatu saat nanti, dan...... Aku tetap bisa mencintainya, meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku, karena memang cinta ada dalam jiwa .


.................................

Admin:

Semoga Akhwat ini bisa melalui semua galaunya, dan tidak lagi hidup di bawah cintanya yang sangat tidak mungkin diwujudkan. Semoga cintanya yang indah itu bisa diberikan untuk orang yang sangat berhak, suaminya. Karena suaminya sangat mencintainya. Semoga kejadian ini tidak dialami yang lain, kokohkan kembali komitmen pernikahan itu. TERIMAKASIH TELAH BERBAGI.

Selasa, Oktober 28, 2008

Hari ini, 2 bulan lagi


60 hari dari sekarang, hari menggetarkan itupun terlaksana, menyahut panggilan hati kita yang ingin berjalan menuntun mata angin ke arah matahari terbenam. Sosok asing yang tak kita kenal itu akan menjadi jiwa yang paling kita kenal kemudian. Inilah tabuhan bertalu milik insan yang bisa menjaga rindu.


Gelombang sorak merangkak panuh peluh itu sudah saatnya mati, dan hidup pada matahari yang baru. Mungkin bulan harus bersabar menunggu malam, atau bulan yang rindu itu tak kuasa menahan cinta, hingga harus memeluk matahari disiang hari. Tak bisa disalahkan bulan atau matahari, karena mereka memang diciptakan untuk berbagi.


Ada sesuatu yang berakhir, dan ada sesuatu yang berawal. Inilah langkah semua yang hidup, karena perubahanlah yang tak pernah berubah. Adalah kita yang ingin cinta itu terjaga dari bermula hingga tak berakhir, sampai Allah saja yang berkata lain.


Satukanlah hati yang masih terhijab ini, bukan hanya hati, tapi seluruh yang kita punya. jangan pernah merasa fakir, karena Allah menciptakan kita dengan banyak hal yang sangat istimewa. Kau istimewa, aku isimewa, dan kita sekumpulan orang yang istimewa.


60 hari lagi... sombongnya penggagas kebebasan dalam berekspresi pada lindungan baju kotornya bualan demokrasi itu akan menjadi pecundang dibawah kaki-kaki penegak risalah. Ini bukan kebetulan, karna pilihan kita untuk menjadi pejuang atau pecundang, maka jangan salahkan takdir karena hidayah itu dijemput, bukan di tunggu.


60 hari lagi... maka hijab tegas itu akan kita lepas, bukan untuk membuangnya, tapi untuk di warsikan kepada insan pecinta risalah lainnya. Jangan menunduk padaku, karena kau harus tatap mataku, dan menemukan tempatmu disana, sebagaimana aku merindukan tempat indah itu padamu.


Ucapkanlah salam kedatangan itu, karena dengan ijin Allah, salam untuk pulang tak akan pernah kita beri ruang. Kemudian lirik-lirik sajak berhambur kalah menatap rona nikah, lalu panggilan indah akan selalu terdengar antara kita... panggilan yang tak mungkin kita biarkan berakhir...

Minggu, Oktober 26, 2008

Tetaplah Perjuangkan


Kau masih ingat tentang bendera yang harus tetap berkibar? Ini adalah hari bersejarah buat kita, ini adalah langkah awal kita, ini adalah nol kilometer kita untuk hidup yang lain. Kita pasti ingin awal kehidupan baru ini tidak dimulai dari hal-hal yang tidak kita inginkan. Keinginanmu, sama seperti yang aku inginkan, maka kau sudah tak perlu repot meminta persetujuanku, paling hanya pemberitahuan saja. Bukannya aku percaya buta kepadamu, aku hanya sudah yakin bila kita punya keinginan yang sama, aku harap tetap seperti itu.

Aku memang tidak terlalu berkosentrasi pada walimah, bukannya walimah itu tak penting, karena dimataku, hidup kita sebenarnya adalah setelah walimah itu selesai. Saat kita sudah hidup bersama, disinilah segala komitmen kita akan teruji. Dan aku hanya ingin agar kau nyaman bersamaku, menjadikanmu benar-benar sebagai istri, dan menempati salah satu tempat teristimewa di hati.

Sejak namamu belum pernah ada di kepalaku, aku sudah sibuk menyiapkan banyak hal. Aku telah memiliki sedikit diantaranya, walau yang kupunya tak sebanyak yang di harapkan kebanyakan orang, tapi aku sudah wajib bersyukur kepada Allah karena hal yang sedikit itu, dan akan aku gunakan untuk menjemputmu, nama yang kemudian akan selalu di kepalaku...

Kaupun tentunya tahu, sudah banyak korban yang harus mati konyol dalam sebuah walimah. Karena pasangan yang ingin syar’i itu harus bertarung dengan orang yang mereka hormati, orang tua dan keluarga. Mereka harus kalah, tapi bukan karena mereka lemah, mereka kalah karena kecintaan kepada orang tua. Sungguh pertarungan yang tidak imbang.

Lantas, apa kita juga akan seperti ini? Mestinya aku tak tanyakan ini kepadamu bukan? Toh kaupun sudah tahu apa yang harus di usahakan dan dikerjakan. Disini, mungkin kita sedikit bersyukur, kanapa? Karena orang tua dan keluarga ku tidak akan bisa “berbicara” banyak tentang walimah ini, mereka memang sempat tanyakan kepadaku, aku jelaskan saja apa yang ada di kepalaku dan aku sampaikan pula bahwa ini keinginan kau dan aku. Aku tak tahu apa mereka kalah atau pasrah, tapi yang jelas, mereka akan ikut saja. Dan mudah-mudahan satu halangan telah terlewati.

Sekarang, apa kabarmu dan keluargamu? Aku tak akan menterormu. Toh kau juga sedang berjuang keras. Kau tidak sendiri, kita punya banyak teman yang bisa membantu. Apa yang kau butuhkan? Insya Allah bantuan akan segera datang.

Hanya mengigatkan saja:
...bahwa Allah akan memudahkan urusan orang-orang yang ingin menikah karena Dia...
Lantas, apa lagi yang kita risaukan? Tetap berjuang ukhti ku (...ups, apa aku sudah boleh bilang begitu?, akan segera di edit)

Tak ada (lagi) ragu



Bila kau tanya aku tentang perasaan ku pada keadaan yang sekarang, maka aku yakinkan kau bahwa kau tak perlu tanyakan itu lagi padaku. Aku tahu, semakin dekatnya hari H itu membuat orang akan semakin tidak yakin dengan langkahnya sendiri. Aku yakinkan kau, aku tidak seperti itu lagi, kita sudah melangkah jauh, banyak hal yang sudah dilakukan, mana mungkin perasaan sangsi itu semakin besar. Tidak, perasaan sangsi itu sudah semakin terkikis dan mungkin sekarang telah habis.


Aku tak punya rencana lain selain melanjutkan yang sudah kita usahakan, bukan berarti pilihan untuk mundur itu tidak ada, pilihan mundur itu pasti ada, tapi aku tak sempat menuliskannya di agenda pernikahan ini. Karena isi agenda pernikah ini semuanya tentang menjalankan pernikahan, dan agendanya sudah penuh, disana banyak hal yang akan dilakukan untuk mewujudkan impian yang ingin kita bangun. Kalaupun pilihan mundur itu harus tetap ada, maka yakinlah bahwa pilihan itu cuma ada di agenda orang lain.


Jelangan hari yang semakin tercium ini tak akan pernah lagi membuat ku harus takut seperti yang pernah kurasakan dulu. Aku memang sempat ragu akan langkah yang aku lakukan, pernah terpikir untuk memadamkan api yang sudah berani kita nyalakan itu. Tapi, api itu terlalu indah untuk dipadamkan, niat ini terlalu mahal untuk dibatalkan, dan dirimu terlalu baik untuk dijauhkan. Aku pasrah pada angin, aku sudah tahu angin akan membawaku kemana, tapi aku tak perduli, aku hanya menatap langit, dan meminta pencipta langit itu menyakinkanku tentang arah ini.


Suatu malam teduh, aku mengangkat semua renungan yang ingin ku adukan, mencabik semua gundahan kelana itu dan membongkar roda gila perjalanan...


Dan terhitung mulai saat itu, niat ini harus disempurnakan. Perjalanan ini akan kutempuh dengan kerinduan bersamamu, tentunya dengan hijab yang masih harus kita jaga. Selain Allah, hanya kita yang tahu, apakah hijab itu masih terpasang rapi ataukah sudah kita pecundangi. Menurutku, semuanya masih baik, dan akan tetap seperti itu sampai kita harus melepasnya sebentar lagi dan menyimpannya untuk orang lain.


Berjalanlah... karena kau sudah tak sendiri lagi. Walau tak terlihat, teman itu ada untukmu...

Selasa, Oktober 14, 2008

Dadaaahh waktu....


Hidupku yang mungkin tak seindah pelangi ini tak kan pernah membuat ku surut lagi menatap sangarnya matahari. Begitu jauh dari indahnya pelangi, hingga akupun lupa warna pelangi. Apa aku patah arang dengan keadaan yang seperti itu? Tidak. Karena warna bunga taman sudah cukup membuatku tersenyum.

Aku sudah tak mau menatap matahari, bukan aku sudah tak bernyali. Untuk apa aku harus mengalahkan matahari, toh kalaupun dia kalah apa untungnya buatku? Itu cuma makan waktu, lagian aku takkan bisa menggantikan tugas matahari, karena matahari juga tak bisa gantikan posisiku. Kalau pun bisa di gantikan, apa aku mau? Tidak! Di angkasa sana terlalu sepi, sedang di sini… ada makhluk berkerudung yang akan menemani. Jadi biarkan matahari dengan sinarnya, dan aku dengan hari-hariku.

Aku memang sudah lama berlayar, dan sekarang aku ingin berlabuh. Sejak jangkar ini diangkat dari sebuah pelabuhan entah-berentah, aku sudah mendambakan akan berlabuh pada dermaga impian, semakin lama aku berlayar, semakin aku merindukan dermaga itu. Kini, dermaga itu sudah di depan mata.

Memang awalnya aku merasa tidak yakin, inikah dermaga yang aku rindukan? Tapi kibaran kerudung itu membuatku yakin, inilah tempatku. Dan aku sangat berharap agar kerudung itu terus berkibar menyapaku, mengingatkanku, mengharapkanku juga merinduiku.

Mungkin masih terlalu pagi buatku untuk mengucapkan salam perpisahan kepada waktu. Yah, waktulah yang membatasiku kini. Tapi aku sudah tak tahan untuk menyampaikan kata perpisahan.

“hai waktu yang menyebalkan... emang enak ditinggalin? Aku sudah tidak ingin menunggumu lagi, karena sudah ada yang lebih enak untuk di tunggu. Kau terlalu menjemukan untuk menjadi teman, dan aku sudah punya teman lain yang bisa marah, bisa kesal, bisa senyum, bisa ngambek, bisa manja, bisa bikin repot, bisa bikin GR dan bisaaa..... ada deeehh..... hai waktu.... dadaaaaahhhhh....”

Senin, September 29, 2008

Mencari jejak masa lalu


Mungkin karena terlalu lama tidak pulang, aku lupa wajah desaku. Terlalu banyak berubah, sudah banyak rumah, padahal dulu disini masih banyak tanah kosong yang menjadi kebun atau sawah, apa bila sudah panen, sawah itu menjadi tempat main bola antar kampung… aku sempat nyasar. Tapi itu tak lama, karena aku coba kembali mengingat rumah-rumah yang dulu sering aku lewati, bukan hanya rumah, dulu, aku tahu berapa isi tiap rumah, termasuk nama mereka, pekerjaan, sekolah dan semacamnya. kini aku coba mebongkar ingatan itu kembali, di tengah subuh yang masih remang itu, aku masih bisa menemukan rumahku, rumah tempat aku dilahirkan.

Desa ini memang sudah banyak yang di penuhi rumah di sepanjang jalan, juga pohon-pohon semakin banyak, terlihat semakin rimbun saja. Masih seperti dulu, banyak burung kecil yang terbang bebas mencari makan di dahan pohon nangka, jambu, mangga dan rambutan disekitar rumah, mereka masih bernyayi seperti dulu. Ada pohon langka yang menurutku sudah banyak di tanam oleh semua orang di disini, mereka punya walau cuma 2 atau 4 pohon saja, pohon kakau (pohon coklat). Dulu tanaman ini sangat asing buatku, sekarang, pohon ini menjadi pohon emas. Banyak juga ditanam dikebun belakang rumah. Maklum, biji tanaman ini sedang meroket harganya, banyak orang kaya mendadak gara-gara tanaman ini.

Rumah ini agak sepi, maklum disini cuma ada ayah, ibu, adikku yang ke 4 yang masih SMA kelas 1 dan Putri kecil yang genit berumur 2 tahun 6 bulan. Dan sekarang di tambah aku. Adik ke 2 pergi ke Riau, kampung istrinya dan tinggal disana, adik ke 3 sedang tugas ke Bireun, dia Polisi, setelah lebaran baru pulang. Sewaktu aku kecil, rumah ini ramai, banyak teman-teman kami yang datang, juga banyak tamu ayah yang datang.

Masih seperti dulu juga, ayam-ayam disini masih saja masuk rumah orang sembarangan, dan buang kotoran seenak perutnya. Dulu kami punya banyak ayam dan bebek. Tapi banyak yang hilang di curi, juga banyak yang mati waktu terserang penyakit unggas mewabah di desa ini, sekarang tinggal 2 ekor, itupun pemberian Ayang (panggilan kepada saudara perempuan ibu yang ke 3). 2 ekor ayam berumur 4 bulan itulah penghuni kandang besar di belakang rumah.

Masih seperti dulu, rumah ini masih terlihat berantakan. Disana sini banyak yang kotor kurang terawat. Aku sendiri risih. Tapi aku tak berani banyak komentar. Menurutku rumah ini sudah termasuk modern, Ayah yang membuatnya, tapi kurang teratur saja. Lagi-lagi aku tak berani komentar. Dan seperti dulu, aku selalu rajin menyapu lantai, karena kakiku agak sensitif dengan kotoran kecil dibawah telapak kakiku. Aku mulai membersihkannya apa saja tanpa banyak bicara. Baru sedikit yang aku bersihkan, tiba-tiba rumah jadi agak berubah sedikit. Aku biasanya setiap habis shalat dzuhur di masjid langsung pergi melihat-lihat perkembangan kota, begitu menjelang buka puasa, aku pulang, dan mendapati rumah berubah.... yaaa walau masih berantakan, tapi ini lebih baik sedikit.

Tidak seperti dulu, dulu aku punya banyak teman, sekarang aku sudah tidak punya teman. Semua temanku dulu sudah pergi ke rantau orang, sama sepertiku. Kalaupun ada mereka sudah menikah, dan tidak tinggal disini lagi. Teman-teman seangkatanku semua sudah menikah, malahan ada yang sudah jadi janda 2 kali… sedang aku? Ah, aku tidak kalah, aku punya calon istri cantik nan solehah disana, tidak ada wanita yang seperti calon istriku di sini (huss... ini bukan gombalan pra-nikah loh, suer).

Aku dulu tidak bergaul dengan orang yang sudah tua, kalupun ada, hanya sekedar saja. Tapi sekarang, cuma kakek-kakek dan nenek-nenek inilah temanku, mereka sangat senang bertemu denganku. Aku sempat pusing dibuatnya kalau ditanya tentang istri, aku sudah jelaskan kalau aku sudah punya tunangan, tapi mereka tetap ngotot agar aku nikah saja sama orang Kutacane juga, alasannya, kalau aku nikah sama tunanganku yang sekarang, mereka tidak mungkin bisa melihat aku menikah, apalagi bertemu dengan istriku, karena mereka bilang, setelah aku menikah nanti, aku pasti akan lama kembali ke Kutacane, dan saat aku kembali bersama istriku, mereka pasti sudah di alam kubur... kalau aku perempuan, mungkin aku akan menangis mendengar ucapan mereka yang begitu memelas, berkata sambil melagukan lagu rintihan tempo dulu, rintihan khas untuk ucapan perpisahan. Saat menulis bagian ini juga tak terasa air mataku tumpah, nafasku seperti tertahan, tenggorokanku sakit karena menahan tangis, aku benar-benar ingin menagis...mungkin sebaiknya aku menangis dulu.......

..........
..........

Seperti dulu, permasalahan antar keluarga masih saja ada. Termasuk keluargaku, malah menurutku sudah semakin parah saja. Aku bingung bagaimana aku harus ambil sikap. Tapi aku pura-pura tidak tahu permasalahan itu, padalah ibuku sambil menangis menceritakan tentang perlakuan saudara-saudaranya (baik saudara dari ayah maupun ibu) yang sangat tidak adil bagi keluarga kami. Tapi aku tetap saja bersilaturahmi kepada mereka, dan mereka menyambutku dengan baik, aku juga memang tidak mengungkit-ungkit persoalan yang sedang ada. Iya, persoalan keluarga, sungguh ini pelajaran yang sangat mahal aku terima, aku tidak akan mengikuti jejak mereka, aku ingin silaturahmi ini berjalan baik selamanya. Duh Allah... sampai kapan masalah keluarga ini akan berakhir...

Tak bisa dipungkiri, makanan disini enak. Aku sudah berjalan-jalan di daerah kota, banyak makanan yang di jajakan disana apalagi Ramadhn ini, menjelang buka puasa banyak sekali. Seandainya ini bukan Ramadhan, aku pasti sudah menunaikan niatku untuk berwisata kuliner seperti yang di TV-TV itu. Niat itu harus di tunda sampai selesai lebaran.

Pada umumnya, banyak hal yang masih seperti dulu. Hal yang baru aku lihat antara lain, sudah banyak rumah penduduk desa ini yang juga berfungsi jadi kantor partai, baik nasional maupun lokal. Banyak yang membuka usaha sendiri, dulu juga ada, tapi tak sebanyak sekarang. Pembangunan gedung untuk berjualan sudah mulai memasuki desa, dulu cuma di kota saja, aku malah sempat berfikir kalau kota akan bergeser. Dulu yang punya antena parabola bisa di hitung dengan jari, sekarang hampir semua rumah punya, maklum, siaran TV disini terbatas, kalau dengan parabola bisa dapat banyak. Pembangunan disini mandeg sih, pejabatnya pada korup, malah seluruh Aceh... Aceh Tenggara ini yang paling terkenal korup, yang kaya ya pejabat itu. Kalau mau mendapat pangkat tinggi kita harus ikut partainya pejabat, kalo tidak, bakal digeser dengan alasan pembaharuan dan di ganti dengan kader partai yang menang. Tidak tahunya malah diisi sama orang yang tidak kompeten, maka wajar belaka disini pada main “OK, Bos”. Orang-orang yang terdidik dan cerdas katanya banyak yang lari ke daerah orang lain, karena di sini main “kekeluargaan”, lulus murni jadi PNS adalah mimpi.

Inilah jejak yang masih aku dapati di kampung halamanku. Jujur saja, aku ingin menjadikan kota ini menjadi kota teladan, apalah dayaku, aku tak punya apa-apa disini, semua orang jujur “diasingkan” ketempat lain, hingga tak bisa membuat perubahan. Aku yakin, akan ada waktu buatku untuk melakukan sesutu untuk menjadikan Kutacane ini menjadi lebih baik. Kata saudaraku, 20 tahun lagi baru akan berubah. Wah... paraaahhh...

Langkah ini begitu berat...


Sejujurnya, aku tidak rindu kampung halaman, mungkin lebih tepat: belum. Aku tak tahu kenapa, bukankah semua orang yang jauh dari kampungnya akan menginginkan kembali? Seharusnya begitu, tapi tak tahu aku ini kenapa.

Menurutku, hal yang membuat seseorang sangat merindukan kampung halamannya adalah karena ada sesuatu di kampung halaman yang samasekali tidak ada di tanah perantauan. Jadi, orang akan sangat merindukan hal yang tidak ada itu untuk pulang.

Sedang aku, aku ga tahu apa yang aku rindukan di kampung halamanku. Paling orangtua ku dan masakannya, itu saja. Itupun karena aku sudah terbiasa jauh dari meraka, aku hidup seperti orang yang tidak punya orang tua, segala hal aku putuskan sendiri dan menanggung segala resikonya sendiri pula. Ah, aku tidak tahu aku ini kenapa.

Tapi… besi terbang ini tak mau tahu. Dia terus saja bergerak berlahan dengan angkuhnya. Sesaat kemudian dia membawaku terbang memecah angin membelah awan. Di atas sini, Tangerang begitu terlihat kecil, semakin jauh, jauh… dan tak terlihat lagi. Tapi aku menyimpan harapan besar disana. Semua cita-cita dan cinta ada disana.

Bumi ini bagai hilang di bawah awan, dan awan itu begitu terlihat memukau. Berbaris dengan bentuk tak teraturnya, mereka lebih terlihat seperti busa raksasa, manisan raksasa, atau padang salju, ah… semacam itulah.

Hampir 2 jam perjalanan menuju Medan. Kakiku terasa lemas mendengar pramugari menyampaikan bahwa kami beberapa menit lagi akan sampai di Polonia, Medan. Begitu kaki kananku menyentuh tanah Medan, aku ingin teriak… aku ingin kembali.

CellPhone yang semula aku matikan saat terbang aku nyalakan kembali begitu aku duduk di mobil penjemputan. Sebuah SMS datang, ini SMS pertama yang kuterima sejak di Medan, dari calon istriku, ini yang aku tunggu. “sudah sampai di Medankan? Buka… Buka…” karena aku dari tadi terus saja melamun, aku baru sadar kalau sekarang hampir tengah tujuh, sudah maghrib, dengan senyum, aku berbuka puasa dengan air yang aku bawa dari Tangerang. Ini senyum pertamaku di kota ini sejak tujuh tahun silam.

Perjalanan masih jauh. Supir taxi mengantarku ke stasiun pemberangkatan bis kecil menuju kampungku, Kutacane. Pukul 20.00 Wib, bis L300 ini melesat dengan gaya khasnya membawaku lebih jauh ke ujung sumatra. Aku terus saja melamun…tak percaya aku pergi begitu jauhnya dalam hitungan jam...

Jika bukan karena rencana pernikahan ini, tak akan pernah aku kembali. Sebenarnya, aku sudah niatkan tidak pulang sekalipun akan menikah, aku tidak tahu kenapa bisa berubah pikiran begini. Yang aku tahu, langkah ini begitu berat, mungkin aku terlalu jauh dengan calon istriku? Hmmm... barang kali.

Kamis, September 18, 2008

Untuk Calon Istriku...


Nilai manusia, bukan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia Hidup; bukan apa yang telah diperolehnya, melainkan apa yang telah diberikannya; bukan apa pangkatnya, melainkan apa yang telah diperbuat dengan tugas yang diberikan Allah kepadanya

Aku do’akan… semoga… ketika kamu sangat merindukan seseorang, maka seseorang itu segera hadir dimimpimu dan kamu juga bisa memeluknya dalam alam nyata, semoga kamu mendapatkan orang seperti itu.

Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakkan. Tetapi acapkali kita terpaku terutama pada pintu yang tertutup, sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan untuk kita.

Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya. Tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.

Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati. Cobaan yang cukup untuk membuatmu tabah, kesedihan yang cukup untuk membuatmu mawas diri dan manusiawi. Pengharapan yang cukup untuk membuatmu semangat. Dan niat yang cukup untuk bisa menolong sesama dan beribadah.

Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri kita sendiri yang kita temukan di dalam dirinya.

Cinta adalah… saat kamu kehilangan rasa gairah, merasa bosan, merasa sedih, merasa kesal, merasa gembira, merasa lelah, kehilangan romantika… tapi kamu masih tetap perduli padanya, masih mengharapkannya, masih merindukannya.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya, dan kamu harus melepaskannya.

Calon Istriku…
Mungkin Allah menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat. Ingatlah, kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentinganya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka...

Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh dengan sebuah kasih sayang, dan berakhir dengan sebuah tetesan airmata. Hanya perlu waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang, sehari untuk mencintai seseorang, tetapi… diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang

Setelah menikah nanti…
Tetaplah menjadi dirimu, bermimpilah tentang apa yang kamu impikan, pergilah ketempat-tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan. Aku tidak akan larang. Karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang kamu inginkan, tentunya berdasar hati nurani dan Islam yang kokoh di hati dan pikiranmu.

Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin juga hal itu menyakitkan hati orang lain pula. Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.

Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang Akhlaqnya baik dan kalau dipandang membuatmu tersenyum, karena hanya akhlaq yang baik, niat yang tulus, cara yang benar dan senyum yang tulus dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah.

Teman yang baik adalah seseorang yang dapat berkata benar kepada kita, dan bukan orang yang selalu membenar-benarkan perkataan kita, tanpa koreksi dan nasehat…

Aku juga belum bisa menjadi bijak, tapi aku tidak akan berhenti berharap agar kau bisa membuatku bijak…

Selasa, September 09, 2008

Syndrome pra-Nikah?


Aku tidak tahu apakan ini suatu ketakutan atau memang harus seperti ini rasanya. Kadang perasaan tidak percaya atas apa yang telah kulakukan tiba-tiba saja muncul, merasa seperti mimpi dan kemudian entah yang keberapa kali aku kembali menatap langit-langit kamar yang mungkin sudah bosan kutatap sambil aku kembali mengingat-ingat langkah yang telah dilalui. Dan entah yang keberapa kali juga aku mendapatkan kesimpulan bahwa ini bukan mimpi, aku benar-benar telah mengkhitbah seorang akhwat manis Agustus lalu dan akan segera menikah. Ini kesimpulan yang tidak pernah tidak.

Lalu, kenapa aku harus merasa tidak percaya? Dasar laki-laki!!! Semuanya bermain logika.

Aku juga tidak tahu, kenapa perasaan yang menurut ku tidak enak ini senang sekali bersamaku. Aku dibuatnya bingung, kadang perasaan ingin pernikahan ini dipercepat itu datang agar aku bisa segera bersama dia, tapi kadang aku ingin di tunda lebih lama. Ini bukan masalah adanya cinta atau tidak. Ini masalah percaya dan tidak percayanya aku pada keadaan yang sekarang. Apa karena tanggal pernikahan ini terlalu lama? Menurutku ini termasuk waktu yang cukup matang untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Lantas, aku ini kenapa? Tidak ada cinta? Rasa sayang? Perasan memiliki? Rasa rindu? Gelisah? Cemburu?.... halah… itu tidak usah dibahas lagi, aku punya semuanya. Bahkan karena aku memiliki semua itu makanya aku saat ini jadi semakan tidak nyaman.

Parahnya lagi, aku tidak tahu kenapa aku harus bungung.

Apa aku terlalu memikirkan pernikahan ini? Bisa jadi, setiap saat aku terus memikirkan pernikahan ini, saat makan, mandi, kerja, jalan, apa lagi watu akan tidur. Apa yang aku pikirkan? Aku juga tidak tahu.

Memang, kadang kita terlalu sibuk dengan berbagai persiapan pernikahan, kita tidak melihat hati orang yang akan menikah. Mereka memerlukan pendapingan mental (apa mungkin aku termasuk disini?) untuk meyakinkan langkahnya sendiri. Bukan karena tidak ingin menikahi belahan jiwanya, tapi mungkin faktor dukungan.

Ada sebuah email datang dari pengunjung blog ini, dia menceritakan pengalaman seorang temannya yang waktu itu akan menikah. Semua perlengkapan hari H sudah matang, tinggal pelaksanaanya saja, tapi… 5 hari menjelang pernikahan, calon mempelai laki-laki hilang bagai di telan bumi, hilang begitu saja. Semua orang bingung, Hp tidak aktif, tidak ada yang tahu kemana, mempelai wanita menangis siang malam… semua menjadi kacau. Banyak spekulasi yang muncul, karena beberapa hari ini sang calon suami itu seperti orang kebingungan mungkin saja ia bunuh diri… hihihi… atau cari mempelai wanita yang lain… hahaha….

H-2, si Romeo ini tiba-tiba muncul… cengar-cengir… seperti tidak ada masalah… dia berjalan dengan enteng saja. Ternyata dia hilang itu, dia ingin mematangkan mentalnya dan pergi tanpa tujuan, dan tanpa sengaja pula dia sampai pada sebuah masjid yang jauh dari tempatnya tinggalnya, masjid yang di luar kota sana, dia menginap disana 3 hari dan meminta nasehat dari imam masjid itu tentang pernikahan, kebetulan imam masjidnya asik juga… disanalah dia “menimba ilmu” tentang pernikahan. Aneh yaa?

Setelah keluarganya di beri pengertian, si jagoan ini meng-SMS calon istrinya yang masih saja merisaukannya… “sayang, maaf aku telah membuatmu menagis. Aku akan membayarnya dengan diriku. Tunggu aku dengan senyum dan cintamu 2 hari lagi…”

Aku jadi pengen meng-SMS calon istri juga jadinya: “sayang, malam ini mulai gerimis, dingin… sebentar lagi akan hujan, jemuran udah diangkat belum?” hahahaha…. (sumpah aku ga berani).

Mungkin aku juga harus minta banyak nasehat dari para senior-senior itu tentang pernikahan, menguatkan hati, mental dan menambah pengetahuan agar aku bisa menjadi suami yang baik untuk mu. Tapi bila nanti ternyata aku tiba-tiba hilang juga, kamu tidak usah khawatir, aku paling di Labuan atau Carita, lagi negoin agar nikahnya bisa minggu depan ajah… hehehe…

Memupuk Cinta


Sebuah SMS datang, sebenarnya biasa saja, tapi melihat siapa yang mengirim… aku jadi gugup. Bagaimana tidak gugup, ini dari calon istri. Tapi kegugupan ku itu tidak terbayar dengan isi dari SMS itu, hanya tulisan sederhana dan singkat. Kalau aku menuruti hati, aku ingin isinya tentang banyak hal… yah apa saja. Tapi kan kita bukan orang biasa. Kita ini orang aneh, tapi insya Allah inilah yang membuat kita utuh. Kadang banyak hal yang diingini oleh hati yang tidak masuk akal, dan bahkan kita akan terperosok kejalan yang tidak seharusnya bila tetap dituruti. Semoga kita tidak seperti itu.

Memupuk cinta. Ini butuh kerja keras. Di proses dari tidak saling kenal, kemudian dipertemukan cuma sekali, lalu di lamar… kalau bicara cinta, bagai mana mungkin cinta itu ada dengan keadaan seperti itu? Sekali lagi, ini memang aneh.

Inilah letak keunggulan kita, apa itu? PERCAYA. Ini hal yang sederhana tetapi amat sangat sulit. Terus terang aku parcaya pada mu karena kamu dibina oleh organisasi yang aku percaya. Tidak ada sedikitpun keraguan. Masalah kekurangan dan kelebihan, toh kita semua punya potensi untuk itu. Tinggal bagaimana cara kita menerima semuanya.

Menurut ku, aku termasuk orang yang payah dalam mengungkapkan cinta, sayang dan semacamnya. tapi aku sangat yakin, untuk mu… aku punya semuanya. Bila kamu mau melihatnya, sepertinya kamu harus agak kreatif menggalinya, karena seperti yang aku bilang, aku termasuk orang yang payah dalam urusan ini.

Entah aku merawatnya terlalu baik, cinta itu tumbuh terlalu cepat menurutku. Aku tenggelam oleh perasaan sendiri. Kadang aku sebel bukan main, karena saking banyaknya aku bingung mau disampaikankan kemana perasaan itu. Untunglah kita ada di tempat yang tepat, karena kadang korban perasaan itu penting, bukan hanya kadang, tapi selalu. Harus lebih banyak sabar ternyata, sabar bukanlah pasrah. Sabar adalah tetap istiqamah dijalan yang tepat, setepat niatku untuk menikahi mu…

Selasa, September 02, 2008

Pernikahan itu...


Pernikahan..
Semua orang bisa menjalaninya, menikmatinya bahkan memporak-porandakannya.
Pernikahan bukan sebuah keinginan, namun sebuah keberanian untuk mengambil tanggung jawab dan kesiapan untuk berjuang. Bisa juga menjadi sebuah pilihan, sebab ada banyak cara untuk sekedar menunjukkan rasa simpati, kasih sayang dan cinta...

Pernikahan menjadikan kita belajar banyak hal bahwa perkenalan adalah suatu proses panjang yang tak pernah lekang dan terbatas oleh waktu. Bahwa pasangan kita adalah manusia biasa yang punya potensi hina dan mulia, seperti juga kita.
Pernikahan menjadikan kita mengevaluasi diri, bukan untuk menjadi malaikat, bukan juga hanya untuk sekedar bahagia.

Pernikahan adalah keikhlasan, untuk memberi dan melakukan kebaikan. Mendahului memaafkan,mendahului bertindak mulia..Hingga tak ada yang merasa terdzalimi.Bila kewajiban telah tertunaikan dan semua hak telah terpenuhi, maka keseimbangan akan terjiwai. Menyatu dalam ikatan yang di ridhai Allah Arrahman, Sang Pemilik Cinta Sejati.

Minggu, Agustus 31, 2008

Ifa, bendera itu harus tetap berkibar...



Aku pernah menonton sebuah film, mungkin namanya film dokumenter dari sebuah suku di nusantara ini di TVRI, sudah lamaaaa sekali, aku lupa kapannya. Disana diceritakan bagaimana masyarakat setempat melaksanakan berbagai macam prosesi adatnya. Sangat luar biasa mereka melakukan aktivitas itu, mereka tak peduli berapa besar nominal yang di keluarkan atau tenaga yang di gunakan atau juga waktu yang di habiskan, yang penting proses adat ini berjalan, dan mereka senang kalau proses itu berjalan seperti yang di jalankan oleh leluhur mereka. Begitu menghormati adat hingga mereka berkata : "… lebih baik dikatakan tidak beragama dari pada tidak beradat…"

Lalu, banyak juga adat ini yang katanya “ber-aroma” Islam. Ya, mereka memakai salam, mereka memakai basmallah, mereka memakai syahadat, mereka memakai hamdallah dan mereka juga berdo’a kepada Allah… Tuhan yang sama dengan ku. Orang-orang dikampungku juga orang yang sangat mengedepankan adat, dan katanya adat ini ya islam itu sendiri, Islam inilah adat kita, begitu katanya…

Jika Islam itu memang dipakai sebagai adat, mengapa tidak mengatur tentang aurat? mengapa laki-laki dan perempuan masih bercampur tak karuan dalam suatu prosesi adat? mengapa harus ada membasuh keris? Mangapa harus ada kepala kerbau? Mengapa harus ada ayam hitam? Mengapa harus ada bakar kemenyan? Mengapa harus ada kembang tujuh rupa? Mengapa harus menari? Mengapa… mengapa… dan mengapa banyak hal yang dilakukan disana tidak pernah di contohkan oleh orang yang membawa Islam ini? Kan dia yang menjadi contoh, Rasulullah yang harus di contoh, bukan nenek monyang !!!

Ifa…
kamu atau aku… aku tahu kita tak butuh itu. Satu hal yang kita harus tahu, keluarga kita sayang kepada kita, pernikahan ini adalah hal yang sangat besar, dan mereka menunjukkannya dengan melakukan prosesi adat karena mereka hanya tahu seperti itulah menunjukkan rasa sayang. Coba kalau pemahaman mereka sama seperti pemahaman kita, pasti akan lain ceritanya.

Insya Allah, Allah akan berikan jalan kemudahan jika kita berusaha. Bukankah Allah sudah berjaji kalau Dia akan memberikan jalan kemudahan kepada orang yang mau menikah? Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mencoba banyak jalan, memberikan pengertian betapa kita menginginkan agak “beda” dari yang mereka biasa lakukan, dan kita juga sangat menyanyangi mereka.

Mungkin susah, tapi jalan kemudahan itu pasti ada. Bendera itu harus tetap berkibar, karena itulah satu-satunya jalan yang akan kita tempuh agar kita dapat memulai hidup kita yang baru. Tapi, sebelum benar-benar kita mengibarkan bendera itu, tentunya kita harus menyiapkan segala konsep yang kita inginkan. Kita tidak maukan? bendera itu berkibar tak karuan? Yap, kita memang harus banyak bicara.

Pernahkah Kita Bilang Cinta...?



Kau tahu, langkah kita mungkin termasuk cepat hingga sampai pada keadaan yang sekarang, aku bukan sedih dengan keadaan yang demikian, ini malah suatu karunia yang harus disyukuri karena sampai sekarang tidak ada kendala yang membuat langkah kita berhenti dan harus patah arang… semua berjalan seperti yang kita inginkan.

Cinta, pernah kah kita katakan? Pernahkah kau katakan padaku, atau aku yang katakan pada mu… tidak, kita tak pernah katakan itu. Tapi… apakah kita tidak memilikinya? Hal rumit semacam ini memang menyebalkan untuk di teorikan, karena cinta itu harus disampaikan, bila tidak, maka bersiaplah... karena hati kita yang cuma kecil ini akan menjadi rusak. Cinta itu mempunyai daya yang sangat kuat hingga hati kita tak akan mampu menampungnya, maka sampaikanlah rasa cinta itu bila tak ingin hati kita rusak karenanya.

Bukan kata cinta yang kita harap, bukan pula mesra tuturnya. Tidak, ini bukan patah arang cinta buta Romeo dan Juliet, karena yang kita miliki jauh lebih tinggi dari itu. Perbuatan… ya, perbuatan itulah yang mengatakan segalanya. Apakah kau merasa aku mencintaimu? maka lihatlah apa yang aku lakukan, begitu juga dengan mu. Tidak melakukan perbuatan melanggar Islam hingga proses ijab-qabul ini selesai juga merupakan salah satu ungkapan cinta kita tertinggi, karena begitu besar dan bersihnya cinta yang kita punya, maka kita tak ingin itu dikotori oleh perbuatan yang bodoh. Langkah kita yang sudah sejauh ini juga adalah ungkapan cinta… iya, kan? Jika bukan karena itu, maka kita tak kan pernah sampai di tahap ini.

Jangan takut bila kata cinta itu belum pernah terucap dari kita, karena kita telah mengungkapkannya dengan baik sejauh ini. Dan mungkin secara tidak sadar, kita malah mengungkapkannya pada setiap detik waktu kita. Cinta bukan seberapa sering kita SMS-an, cinta bukan seberapa sering kita telpon-nan, besarnya cinta juga bukan seberapa seringnya kita bertemu, besarnya cinta ini bisa kita lihat dari seberapa kuat kita bisa menjaga cinta ini agar tidak dikotori hal bodoh dan semacamnya. Menurutku, sejauh ini kita sudah melakukannya dengan baik, jangan pernah berubah.

Lalu, apakah kita tidak ingin mendengar kata cinta diantara kita? Jujur saja, aku ingin, malah sangat ingin sekali, kamu gimana? aku yakin kau juga begitu. Bisakah itu kita lakukan? Kenapa tidak? Menurutku itu hal yang mudah… tapi aku yakin kita sepakat kalau cinta ini akan kita katakan saat sudah tidak ada lagi sekat yang menyebalkan ini membatasi kita, saat itu… berbagai kata cinta akan dikatakan… akan didengarkan… dan kita akan bekerja sama membuat seisi alam ini cemburu, dan membuat syaitan-syaitan jengkel karena tak mampu menggoda kita hingga langkah terakhir penantian kita, mereka akan kalah telak… dan ini akan menjadi salah satu hadiah terbesar buat kita.

Saat itu… yah, saat itu kita akan…ah, mungkin kau saja yang melanjutkan… aku ngatuk…

Rabu, Agustus 20, 2008

Tetaplah Saling Mengisi




Bila penunjuk batas itu sudah terlanjur lelah menanti, maka sudah tak ada satu debu yang mampu menahan ku untuk katakan luapan biru. Aku dan diri ini masih satu kata untuk menatap mu, dan pasti kan kupertahankan tetap seperti itu hingga kau tak mau tahu atau malah tak perlu tahu.

Cinta sejati memang tak pernah hadir dalam kelalaian waktu kita, tak perlu kau tunggu karena dia lahir dan tumbuh bersama do’a malammu yang teduh.Ini bukan cinta buta atau cerita Cinderella, tidak, ini tak akan dimengerti oleh hati penuh dengan dusta yang buta dengan warna warni dunia.

Bukan apa, siapa, dan bagaimana, tapi luruskanlah dalam jalan wangian syurga, karena apa sebernarnya kita berkata cinta… inilah syurga sebelum syurga sebenarnya yang di gariskan dengan ketetapan Allah.

Hingga rambut akan memutih, hingga ajal akan menjemput... tetaplah saling mengisi seperti matahari dan rembulan. Karena itulah Allah menciptakan cinta...

Barisan Perang Badar




Ketika aku mengkafirkan diri dari anjingnya demokrasi, maka tak ada satu helai rambut yang berhak mengahalangi langkah ku mengangkat patahan narasi yang terlupakan. Ini lah nafasku yang bercampur dengan deru debu jalanan, maka nafas adalah kesempatan, jiwa adalah peluru, hati adalah perisainya… inilah aku, jiwa yang terkoyak dalam seribu martir…

Hidupku yang di abdikan untuk menjadi saksi setiap jengkal tanah di dunia ini, maka kan kujadikan waktu untuk menghias taman-taman kuburan. Tak kan kuelakkan angkuhnya tongkat-tongkat Abu Jahal, hingga iblis bernama kebebasan si setan Amerika itu harus mati bersama ketapel Palestina, dan membakar Vatikan dalam omong kosong perdamaian.

Do’a, batu, air mata dan darah ini akan terus mengalir bersama cinta keteladanan para tabi’in dalam naungan panji Rasulullah, inilah barisan perang badar yang angkat bicara, maka bersiaplah mampus bersama arang mu yang terakhir. Kau tak perlu lari karena tak ada tempat bagimu kecuali di ujung pedangku bersama niat syahid di dadaku.

Dengarkan terompak kaki kami yang terdengar hingga ke ujung syurga, inilah kaki-kaki yang akan menjadikan mu sampah dan pecundang dalam arena perang. Maka sudah pilihanmu untuk menjadi zionis seiring dengan nasib lehermu yang akan ku tebas...

Kamis, Agustus 14, 2008

" ............................"




...
Aku ga tahu sudah berapa lama aku terdiam, dan cuma menatap gambar ini di layar 12,1" WXGA laptop ku, tapi tak ada satu katapun yang bisa kutulis tentangnya, bukan cuma itu, judul sajapun tak bisa aku dapat. Apa aku sudah kehabisan kata-kata? ah, mana bisa, setahu ku, untuk urusan cinta, tidak akan pernah kehabisan kata untuk mengungkapkannya... kata-kata itu pasti ada, dan mungkin lebih dahsyat dari yang kita duga... lha, tapi kok aku bisa blank begini...

Terus terang, aku ingin katakan banyak hal, tapi apa ya...? eemmm... bgini aja, mungkin aku akan telepon kamu saja, boleh kan? tapi kapan yaa? paling mau ngomongin tentang masalah kerjaan, jam kerja, aktivitas, tempat tinggal yaaa apa aja yang berhubungan dengan kehiduan baru nanti, kan harus di persiapkan dari sekarang. tapi sebelum aku telepon ke kamu, aku harus cari dulu nomer telepon kamu.

APA...? aku belum punya nomer telepon kamu? kata kakaku "... apaaaa!! kamu sudah lamar anak orang tapi kamu belum tau nomer teleponnya...? heh... kamu niat ga sih nikahin dia?" yeee... hare gene nanya niat, aduh kakaku yang terhormat, belah lah dadaku, maka isinya niat semua....

lha iya, kan kamu emang belum kasih nomer telepon kan? hehehe aku belum punya nomer kamu bukannya ga cinta neh...hihihi, tapi, yaaa emang belum dapet aja kaleee. yaa paling tar cari dulu, insya Allah dapet lah. Paling dengan sedikit nasihat (jangen begini... jangan begitu, Boleh begini... boleh begitu dan semacamnya) dari yang punya nomer kamu, maka aku pun akan dapet nomer kamu, hehehe, kecuali kalo kamu bersedia ngasih sendiri...

OK deh, ... tulisan ini mungkin tidak mewakili gambar diatas. tapi aku yakin, gambar diatas sudah bisa bicara banyak tentang kita, Desember itu dekat loh... (aduuuhhh, jadi pengen malu, hihihi....).

Jumat, Agustus 08, 2008

Harapan itu...


Belum genap satu minggu aku mengkhitbah mu yang jauh di pelosok sana, rona hidupku terasa begitu memerah. Bagaimana tidak, sebelumnya status ku JOMBLO, sekarang berubah menjadi CALON SUAMI. Wah... jujur saja, aku rada grogi dengan status baru ini. setiap saat... pengen senyum aja bawaannya. Pokoknya senang aja gituh. Tapi... ya ini ga enak nya... aku jadi seneng menghayal , kaya orang mau kawin aja (lha, emang iya kan?).

Betul, semua laki-laki adalah calon suami, tapi status ku ini kan bukan karena aku laki-laki saja, tapi status ini benar-benar resmi. Bukan hanya aku, kau juga begitu, kau kini sudah terikat, dengan status mu yang sekarang menjadi CALON ISTRI, maka sumua pintu terkunci bagi laki-laki mana pun selain aku (hihihi...) dan kuncinya sedang aku simpan, bisa jadi kunci ini tetap ada padaku, dan tidak tertutup kemungkinan kau meminta kunci ini kembali, jika itu terjadi... aku tidak punya alasan untuk tidak memberikannya.

Kau tahu, gossip di kantor semakin hari semakin melabar saja. Berita tentang lamaran 3 agustus kemaren entah bagaimana menyebar ke semua orang disana, mulai OB, kantin (malah issu disni agak parah, aku dikira sudah nikah... maklum, kantinkan tempat mangkal banyak orang), Satpam, Guru, Manajemen, Komite Sekolah hingga ke wali murid.... setiap ketemu, pasti dikasih senyum nakal ”... kapan neeeh, udah gatel pengan kondangan”, atau kalo lagi ibu-ibu ngumpul dan kebetulan aku ada disana ”pak, tanggung jawab loh, banyak yang patah hati neeh...”. bukan hanya dikantor, di lingkungan temen-temen se-aktivitas juga demikian, pasti ditanya tentang hasil lamarannya dan kapan tanggalnya. Aku cuma senyum aja , dan menyakinkan para FANS ku itu bahwa semuanya sedang berjalan, dan tunggu tanggal tarungnya.... ternyata semua orang yang di sekitarku sangat memperhatikan ku, dan frekuansinya diluar dugaan.

Kadang aku juga merasa aneh, kenapa? Coba bayangkan... aku akan menikahi wanita yang sampai sekarang aku belum hafal wajahnya. Aku akan menikahi wanita yang sampai sekarang belum kudengar suaranya (kecuali waktu ta’aruf dulu, itu pun cuma sekedar saja), aku akan menikahi orang yang sampai sekarang aku tidak punya apa-apa tentangnya, kecuali nama. Ya, kecuali nama. Cuma itu yang aku punya (aneh ga sih...?)

Terus terang, aku belum menyiapkan rencana apapun tentang pernikahan ini. Bagai mana tidak, sampai sekarang aku tidak tahu apa keputusan mu tentang pelaksanaan pernikahan ini. Aku tidak akan memaksa mu, karena aku tidak mau begitu. Kalo ingin berjalan, berjalanlah. Tapi kalo kamu mau lari, yaa lari aja... atau kalo mau naik angkot juga ga apa-apa. Yang penting kau nyaman menjalaninya.

Aku juga tidak tahu perasaan mu tentang rencana pernikahan ini, apakah ada masalah... adakah keraguan... adakah yang mau dikatakan..., biasanya, kalo tidak ada konfirmasi berarti tidak ada masalah (seharusnya kan begitu). Tentang bagaimana aku, kau bisa melihat blog ini kapan saja kalau kau ada waktu. Karena blog ini memang disampaikan buatmu... yang lain cuma numpang disini (biar yang masih jomblo-jomblo itu kepanasan). Ada banyak hal yang menurutku kau perlu tahu, aku sampaikan disini. Aku juga tidak tahu, apakah kau keberatan dengan semua yang aku sampaikan disni.

Aku cuma berharap, agar kau baik-baik saja. Dan semua berjalan seperti yang di harapkan. Semoga.

Rabu, Agustus 06, 2008

Catatan 3 Agustus 2008


Semua sudah siap… barang yang di bawa ada semua, orang ikutan … sumuanya siap. Dengan menahan dentuman jantun, pagi itu kami berangkat cuma denga satu niat jalan-jalan.... tepatnya: mengkhitbahmu sambil jalan-jalan kepantai. Dengan berbagai hal, perjalanan agak meleset dari jadwal karena harus menunggu kakaku sekeluarga yang masih ada urusan ”dalam negeri” bersama juniornya, dan ustad AH yang ternyata harus kemabli kerumah walau sudah ada di depan pintu tol karena ada hal yang tidak bisa di lewatkan.. akhirnya perjalanan yang mendebarkan itu berlanjut juga dengan 2 mobil dan 11 orang.

Banyak hal yang di bicarakan dalam perjalanan itu, saking banyaknya aku sampai lupa. Diantaranya kapan rencana pernikahan akan di gelar, aku bilang: ga tahu, lihat aja nanti....

Perjalanan itu begitu jauh, aku kadang membayangkan, bagaimana kau pulang dengan jarak itu? Lalu, bagaimana kau melintasi jalan setelah belokan itu yang tidak ada angkot masuk kesana... kan masih jauh harus masuk kedalam, jalan kaki? Atau di jemput? Ditengah perjalana yang tidak berangkot itu, pamanmu menemukan kami yang sedang ragu dengan jalan kami sendiri.... dan kami pun sampai kerumahmu.

Ketika sampai, aku berharap kalau ini cuma mimpi karena aku terlalu memikirkan rencana pernikahan ini, sial... ini nyata bro...dan sudah banyak orang disana yang menyambut ramah...ah, tempat ini sama seperti kampungku. Desa banget.

Aku sudah gugup beberapa saat setelah di persilahkan duduk, karena aku masih mencari-cari apa kau ada di antara yang menyambut itu atau tidak?sepertinya tidak ada, maklum... takut salah orang...karena (jujur saja) aku sudah lupa wajahmu (hihihi... jadi malu...).

Sedikit basa-basi tentang rute perjalanan, konteiner, debu, cuaca, PLTU, batu besar dan semacamnya.... hey... aku sedang gugup.... bisa bicaraan yang lain saja? Misalnya.... langsung ke lamaran gituh...

Ya... kami mengajukan lamaran, dan.... asiiik… di terima! Kawin dah, neh…

Tapi kemudian aku jadi gusar tentang waktu pernikahan, semula aku sudah senang dengan rencana pertama, walau agak lama, tak apalah… masih dalam toleransi. Tapi… bagaimanan dengan rencana kedua? 1 tahun…!!!

Jujur saja… aku mau kabur. Karena orang-orang disana selalu melihat kearahku, dan aku cuma menunduk dan mengamati HP LG KG300 yang kubeli dengan susah payah setahun yang lalu... sebernarnya aku sudah hafal bentuK HP kesayangan ku itu, tidak ada lagi yang terlalu menarik, tapi waktu itu... HP ini menjadi hal yang sangat menarik untuk di perhatikan di tengah negosiasi waktu pernikahan ini.

Disatu sisi, yaa... masuk akal semua masukan itu. Tapi... yaa... masak iya harus ada ide satu tahun, kalo begini, mendingan mengajukan biodata pernikahan dan khitbahnya setahun lagi aja. Kalau pun benar satu tahun... yaaa OK-lah... tapi kurasa bukan aku yang akan mengkhitbahnya, karena mungkin aku sudah mengkhitbah yang dari provinsi sebelah aja, Bogor misanya.

Maksudku, sudah kita pahami bersama, toh? Jarak antara Khitbah dan Nikah palingan cuma 2 atau 3 bulan, lebih dari itu sudah tidak sehat, siap-siaplah dengan banyak masalah, misalnya: hambar, atau bosan menunggu, itu masalah besar. Tapi, pandangan keluarga memang layak di pertimbangkan, kok.

Bukankah yang menyetujui rencana pertama malah lebih banyak? Naaaa...

Dengan berbagai perasaan yang bekecamuk di hati ku, kami pulang. Aku tidak tahu apakah harus senang atau kecewa dari hasil khitbah ini... tapi yang lain asik-asik saja kelihatannya. Dalam perjalanan pulang aku sempat di godain, apa tanggapanku tentang waktu yang 1 tahun lagi, dengan cepat aku menjawab: Pak, ganti aja ya, pak...? (hehehe.... becanda duluan sih...)

Dalam perjalanan pulang, kami mampir dulu ke Carita, main kelaut yang lagi surut, aku memang senang main ke laut. Sambil memandang laut, aku berkhayal, wah... asik neh, kalau pulang kampung, bisa main terus kelaut (hihihi... itu kalo jadi nikah, mas...)


Sebelum naik lagi ke mobil untuk pulang, aku mampir ke mobil kakak. Yang jelas, entah bagaimana kamu dan keluargamu memperlakukan kakak ku, dia sudah jatuh hati dengan kalian. Dia sudah cocok sekali dengan mu hingga dia bilang agar aku mengajakmu ke BSD kalau nanti balik ke Tangerang, dan bahkan dia sempat mengajakmu pulang bersama, kan?

Dia sudah keluarkan ultimatum: ”awas ya kalo ga di nikahin...udah pas lah pokoknya, udah cocok tuh..., di negoin aja agar tidak 1 tahun ya, jangan ngomong macem-macem, apalagi sampe ga jadi... awas....” Aku senang juga dengan dukungan dari kakak.

Begitu mengantar ustd.AH kerumahnya, aku sempat sampaikan niatku itu, kalau aku tidak bisa menunggu 1 tahun. Dia sudah mengerti, kok. Dan dia akan sampaikan seperti rencana sebelum khitbah itu tetap terlaksana, insya Allah.

Jujur saja, aku sudah siap dengan kemungkinan terburuk termasuk batalnya khitbah ini hanya gara-gara tidak sepakat waktu. Ini pasti sangat sulit (aku pasti bohong kalo aku bilang siap untuk gagal dalam khitbah ini, aku pasti tidak siap).

Aku yakin, kau juga ingin dilaksanaan segera, karena kita tidak butuh perayaan yang besar... kita hanya ingin di nikahkan dan melanjutkan kehidupan kita... iya, kan?

Semoga niat kita segera tercapai...

Selasa, Agustus 05, 2008

Bila Waktu Membakar Batas


Melawan hambatan debu menuju hati mu yang yang mungkin sedang menunggu adalah sebuah niat yang kala itu tak mungkin kutawar lagi. Mungkin angin, mungkin air, mungkin pula api yang mendera kibaran bendera niat menjulang ini hingga bisa saja membuat hati rapuhku tercabik... tapi... niat ini mesti ku tunaikan.

Lembaran cerita hidupku yang ingin kulengkapi dengan namamu dimasa datang semakin membuatku terjebak untuk tetap menapaki langkah ini, karena di jalan inilah kau ada, maka disanalah aku akan melangkah menggapai hati dan dirimu dan menempatkanmu di tempat terdekat dengan ku bersama seluruh yang ada padamu, aku sudah yakinkan itu.

Kemarin... tali merah itu telah mengikatmu sampai kau ingin memutuskannya. Dan dengan tali itu bahana pekik halilintar akan segera menteror setiap jejak kita, jejak yang ingin segera kita lalui. Tapi, retakan pembelah bumi itu membuat hatiku galau, dan aku tahu yang ku ingin belum tentu boleh kuraih, tapi harapan adalah cita-cita. Pernah titisan air suci membasahi hati ini walau sedikit, dengan air itu... maka ku sadar, memaksakan itu bukan jalan keluar.

Ketika hati kakaku telah kau curi, maka ketika itu gemuruh niat agar bisa meraihmu menjadi meradang di kepala bengalku, tapi... 365 hari itu melebihi pikiran terliarku, ini akan memupus rona hatiku... menyiksanya dengan cambuk kerinduan, dan membakarnya dengan api cemburu tak berarah. ini akan menjadi masalah.

Ada secuil niat memercik untuk menghilangkan kau di ingatanku, tapi itu takkan pernah mudah. karena aku harus kembali mencabut pedang dan mengikis hati dan jantung ini yang sudah terlanjur bertato namamu di sekujurnya, ini akan membuat hati dan jantungku berdarah, dan aku harus menahan perih seumur hidupku.

Badai ini memang membuatku berduka, percik itu takkan kubiarkan membesar, karena mengingatmu sudah cukup memadamkan beribu percik yang mencoba menjauhkan hatiku pada mu yang tak mungkin tertukar, lalu kupasrahkan dengan istikharah malam penuh harap, agar jalan ini segera kita lalu...

Ya Allah, jangan jadikan waktu membakar batas ini... segera hilangkan sekat menyebalkan ini dari kami...

Senin, Juli 28, 2008

Biarkan Aku Berlabuh


Membelah ombak adalah nafasku, maka laut adalah badanku. Tak pernah hilang gerusan karang, mencakar asaku yang membuih. Aku takkan hilang, sampai karang jahanam itu harus hancur jadi pasir. takkan kudiamkan gelora ini, hingga badai kelana itu hilang...

Bidukku terombang ganasnya nafas, itulah ombak pembelah hatiku. Tercabik memekikkan langit yang tak berbatas, mengujamkan bengis... bengis yang meringis.

Sampai ketika dayung harapan itu patah, digelut ombak pemarah tak kenal lelah, maka sampai disitu berakhirnya patahan harapan menuju ketepian. Aku, diriku yang mungkin sampah, menyamah atau disampahkan... menatap raksasa api penuh peluh. Lalu hauspun membakar tenggorokan di tengah limpahan laut, kunanti hujan ditengah genangan air... dan aku hilang di tengah ramai. Akankah aku bisa sapai bila telah hilang pengkayuh harapan....

TIDAK!!!
Terlalu murah hidup ini untuk diakhirkan. Maka sampaikan salamku pada matahari, aku akan bertempur dengannya dari pagi hingga petang.. dan bilang pada bulan, karena aku akan menjadi martir gerilya malam, lalu katakan pada bintang bahwa aku datang dengan pedang. Aku... siap merampas milikku yang belum kumiliki dan milikku yang akan kumiliki.

Sobekan sajadah ini menjadi sayap biduk, lalu tanganpun menjadi kayuh penuai harapan. aku berlayar lagi....

Insya Allah, takkan lekang niat ini dari jiwaku. Karena niat itu juga salah satu milikku. Takkan pernah milikku kulepaskan.

Aku lelah... kan kusampaikan nyawa ini pada pelabuhan harapan. Pelabuhan yang takkan pernah kubiarkan dikunjungi orang, pelabuhan milikku, milikku seorang. Ah... ternyata ada kelebat kerudung biru membentang, menghambatku? Menatap sayu melempar beribu harap. Apa yang harus ku upetikan agar aku bisa menetap... emas, aku bukan saudagar pelitas batas. Tahta, aku bukan ningrat manja penyuka hura-hura, yang kau lihat ini cuma orang tersesat, kemudian mencari tempat terdekat, begitu tempat itu dapat kemudian kau terlihat dan mungkin kau juga yang paling tepat.

Hey kau...! biarkan aku mendekat... biarkan aku berlabuh...

Minggu, Juli 27, 2008

Aku akan Datang


Transaksi cinta ini begitu membuat tulang belulang yang berserak di tubuh ini begitu tergetarkan, menghamburkan berjuta impian yang yang ingin diaraih, alam ini memang sulit untuk di ukur, tapi bersama Allah pasti semua akan teratur. lirik jalang hipokrit takkan bisa berkata melihatku, karena hati ini takkan bisa diterjemahkan siul-siul konyol mereka.

Sebuah ultimatum dua kalimah syahadat yang kita tancapkan di hati terdalam akan teruji, yakinkah kau ini yang kau harapkan? yakinkah aku ini yang aku rindukan? deru debu jalanpun tahu kalau kita ingin segera melalui ini. sajak terdalam terhampar luas akan menghibur kita dalam penantian masa itu, karena Allah menciptakannya memang untuk itu.

Sebuah jalan penembus batas itu sudah ada di depan, duri-duri keraguan pasti akan menghalagi di sepanjang jalan itu, tapi jangan khawatir, karena mungkin aku tidak akan berjalan, mungkin aku akan terbang.

Dengan segala yang ku punya...izinkan aku membawa hati mu pulang...

Sabtu, Juli 19, 2008

Tunggu Aku...



Ada sebuah jembatan, jembatan yang telah lama kucari agar aku bisa menyeberang kesana, kesebuah tempat yang kuharap adalah tempat impian. tempat berseminya cinta, tempat bermekaran bunga kasih yang penuh wangi kemesraan. Aku merindukan tempat itu.

jejak-jejak yang kutempuh dengan sabar sepertinya akan mendatangkan kenyataan, aku memang belum melihat jembatan itu, tapi aku sudah bisa merasakannya, dan aku tahu kau sudah ada disana, menanti ku dengan seyum termanis yang pernah kau punya. ya, mungkin itulah sapaan yang bisa kau alunkan, dan memang cuma itu yang bisa kuterima sementara ini.

Khitbah. sungguh... semua ini begitu tak terduga buatku, aku membayangkan akan banyak duri yang menusuk, dan batu terjal yang yang menghambat dengan ganas. aku seolah ingin bangun dari mimpi ini, batapa sedihnya aku bila ini bukan kenyataan. tapi... ini bukan mimpi, aku harus curiga atau bahagia dengan semua kemudahan ini? aku tak tahu. yang jelas, Allah sudah tentukan semuanya.

terimakasih atas semua kepercayaanmu, karena aku juga tidak punya alasan untuk tidak percaya padamu. aku yakin kita bersepakat tentang saling percaya ini, karena inilah yang mengikat kita sejauh ini, dan ini pula yang akan menghancurkan kita kelak bila saling percaya itu sudah terkikis waktu. dalam sujud aku memohon, agar saling percaya ini semakin tumbuh besar dan kokoh dengan semua upaya kita.

di jembatan itu, jangan menatap kearah belakang, karena aku akan muncul dari sana. bukan karena aku tidak suka kau menatapku, tapi aku masih begitu malu menatapmu, ya... rasa pemalu ini masih begitu mendominasi ku, tolong... buat aku siap menatap mu.

di jembatan itu pula, jangan melangkah kesana sebelum aku disampingmu. karena kita akan bersama-sama menyeberang, dan setelah itu... kita akan selalu bersama. aku yakin seperti itu. maaf kan aku bila kau harus menunggu, karena semua ini diluar dugaanku, terlalu cepat buatku, tapi jangan risau... ini cuma sebentar.

di jembatan itu... tunggulah aku...

Sabtu, Juli 12, 2008

Kerinduan


kau tahu betapa membosankannya menunggu? yah, ingin kuputuskan tali waktu itu dan menariknya hingga di sisiku, agar aku tak perlu lagi melalui hari dengan hati semu. karang di pantai hatiku sudah dibersihkan sejak dulu, agar ketika kau datang, pantai itu sudah bersih dan membuat mu nyaman disana, walau aku tak tahu pantai seperti apakah yang kau inginkan, tapi yang aku tahu... pantai itu berpasir, agar indah... kulengkapi dengan pasir putih. agar pantai itu indah, harus ada pohon kelapa yang melambai yang selalu setia menyapa ombak, dan pohon kelapa itu sudah pula disiapkan, lengkap dengan buah mudanya diatas meja dan bangku berpayung teduh agar kau bisa duduk nyaman. selebihnya aku tak tahu... mungkin kau bisa menambahkannya.

kekosongan memang terasa menyebalkan, menyakitkan bila itu lebih lama lagi. ingin kuledakkan semua galau ini, tapi aku masih harus mengalah dengan waktu. ya, waktu memang menyebalkan bagi orang yang masih menunggu. aku harus mendiamkan waktu ini yang terus saja menggodaku dan selalu bilang "... hai orang kasmaran.... cape deeeh...". dasar waktu....

banyak sajak dan lagu hedonis sang kapitalis yang bisa mewakiliku saat ini untuk bersuara, lagu yang sungguh mendayu, merobek hatiku yang sedang sepi menunggu. tapi tak bisa, nada itu terlalu rendah untuk suara hatiku yang terlalu tinggi ini. nyanyian itu terlalu murah untuk mewakili hatiku.

aku yakin, penantian ini akan terbayar dengan sangat pantas.

hati dan diri ini mesti kutundukkan, dan bersyukur seluas lagit, lalu menghidupi hidup ini dengan niat bersih. ya, aku harus bersabar. bersabar pada orang lain adalah kasih sayang, bersabar pada diri sendiri adalah harapan, bersabar kepada orang yang dicintai adalah ibadah, bersabar kepada Allah adalah taqwa.... akan kunantikan waktu terindah itu.